Dari Jembatan Lolong hingga Makam Mbah Sengker

Jembatan batu di sebelahku diam /
Pancuran bambu kecil memercikkan air /
Menghempas di atas batu hitam
Merintih menikam sepi pagi...

JIKA Anda mengaku penggemar Ebiet G Ade, pasti tahu dong penggalan syair lagu di atas. Ya, itulah lagu Lolong yang pernah populer di tahun 1980-an.

Lagu ini menggambarkan panorama Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, terutama Jembatan Lolong yang menginsirasi penyanyi balada kelahiran Banjarnegara itu.

Eksotisme jembatan batu yang melengkung itu pernah dilihat Ebiet tatkala berkunjung ke desa itu, beberapa waktu lalu.

Gemericik air yang jernih dan panorama indah di sekitar jembatan, ditambah kesejukan udaranya, membuat siapapun betah tinggal berlama-lama dan merenungkan banyak hal, temasuk mengagungkan kebesaran Tuhan atau mencipta lagu.

Melihat kondisinya yang masih kokoh, sebagian besar orang mengira jembatan gantung itu baru dibuat pada tahun 1980-an. Padahal jembatan ini dibangun pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1927, atau 81 tahun yang lalu.

Menurut Sekretaris Desa Lolong, Tasjo (56), jembatan sepanjang 25 meter yang melintas di atas Sungai Sengkarang itu menjadi salah satu kebanggan warga desanya.

Jembatan itu menjadi saksi kegigihan para pejuang Pekalongan saat menghadapi tentara penjajahan Belanda. ’’Dulu, di bawah jembatan itu terjadi pertempuran antara pejuang Indonesia dan penjajah Belanda,’’ tuturnya.

Tidak jauh dari tempat itu, terdapat Dusun Karanganjing yang menjadi tempat pembuangan mayat para pejuang yang gugur di medan laga. Sebagian besar pejuang Pekalongan yang sekarang masih hidup, pasti tahu pertempuran di bawah Jembatan Lolong.

Jembatan itu telah menjadi situs sejarah dan banyak menyimpan cerita. Salah satunya adalah keyakinan kalau ada gadis yang mandi pada Jumat Kliwon di sekitar Jembatan Gantung, tepatnya di antara pertemuan Sungai Sengkarang dan Wisnu, maka dia akan cepat mendapat jodoh.

Tidak heran jika dulu banyak gadis yang mandi bersama saat Jumat Kliwon. Sekarang situasinya sudah berubah, karena persoalan etika. Tidak banyak lagi perempuan lajang yang melakukan ritual tersebut.
Mbah Sengker

Situs sejarah lainnya adalah petilasan dan makam sejumlah ulama. Yang paling sering dikunjungi peziarah antara lain makam Syekh Abdurahman Arrumi dan Syekh Jogodono.

Di Desa Karangondang, ada makam Mbah Kiai Sengker yang masih berbentuk jejeran batu kuno. Beberapa batu besar bertebaran di sekitar makam.

Ada yang berbentuk kayu, yang konon merupakan bahan untuk rencana pembangunan masjid. ’’Kayune ditinggal ngantos dadi watu, mergo kedisikan Kiai Rogoselo (kayunya ditinggal sampai menjadi batu karena kedahuluan Kiai Rogoselo—Red),’’ ujar Sadarjo (100), juru kunci makam Mbah Kiai Sengker.

Generasi ketiga juru kunci itu berkisah, Kiai Sengker adalah prajurit dari Surabaya yang singgah dan menetap di daerah ini. Dia lalu mendirikan padepokan di lokasi yang kemudian diberi nama Karanggondang. Di tempat ini dia mendidik 12 muridnya. Salah seorang muridnya berhasil mengalahkan Baruklinting, yaitu seekor naga, melalui sebuah pertempuran sengit.

Jejak-jejak cerita rakyat itu saling terangkai dengan daerah sekitarnya. Situs sejarah yang sangat banyak dan tersebar itu menarik minat banyak antropolog dan ilmuwan untuk menelitinya.

Kades Karanggondang, H Ibnu Sudiyono, menjelaskan belum lama ini ada antropolog lulusan Leiden Belanda yang meneliti berbagai situs bersejarah itu.

’’Dari hasil penelitiannya sementara, diprediksi masih banyak batu bersejarah di dalam tanah sekitar Kabalong,’’ tuturnya.

Jika kelak di kawasan itu ditemukan situs-situs baru, maka Kabalong dapat menjadi tujuan para peneliti, sejarawan, dan penggemar budaya, sebagaimana situs Sangiran di Kabupaten Sragen, atau situs Patiayam di Kudus. (32)SM